Rawat Inap B6801SCN
Akhirnya, setelah beberapa posting terakhir menggunakan judul berawalan ‘S’…
Tembus sudah nilai 30.000km terlampaui. Panas terik, hujan badai… (maklum di negara 2 musim) berhasil dijalani dengan relatif sehat tanpa gangguan berarti. Satria nan gagah perkakas, kupaksa untuk menjalani rawat inap. Iya, harus kupaksa, karena sudah sejak service gratis terakhir (sekitar 11.000km) sang satria tidak bersedia masuk bengkel. Sebenarnya sih aku yang tidak mengijinkannya karena trauma dengan gerayangan montir-montir yang rajin menambahkan goresan di tubuh sang satria. Yah, kalau sekedar ganti oli dan bebersih karburator sendiri aku masih mampu.
Rencana untuk service besar sudah terpikirkan sejak odometer tembus 20.000km, namun karena tidak ada keluhan berarti, baru setelah 30.000km aku paksakan. Jumat malam (3 Nov) aku mengirimkan SMS ke seorang empu mekanik referensi dari seorang teman di SSFC untuk membuat janji. Tercuat kesepakatan untuk bertemu di seputaran daerah Kebon Jeruk pada Minggu malam guna menukar satriaku dengan satria si empu selama rawat inap berjalan.
Karena pengalaman dan ketrampilan sang empu yang patut diacungi jempol maka hari Senin malam satriaku sudah bisa diambil kembali. Kami bertemu di sebuah toko donat di area SBPU seputaran Pos Pengumben untuk menukar satria masing-masing.
Aku puas, performa sang satria kembali prima, kantong tak perlu dirogoh terlalu dalam, dan tubuh sang satria tetap mulus, aman dari gerayangan montir biadab
Eh, ini ada foto (kepala) motor satria sang empu yang sempat mampir di garasi rumah
sabarku akan seperti Mu
Jumat kemarin aku terlibat curhat seru dengan seorang teman. Ternyata kami memiliki permasalahan yang serupa dan sebangun dalam menghadapi manusia-manusia yang menguras kesabaran.
Kami punya beberapa pertanyaan yang lagi-lagi ternyata satu topik, seperti:
- Sampai kapan aku harus sabar kepada mereka?
- Adakah aku harus menentukan batas untuk kesabaran itu pada mereka?
- Seberapa besar aku harus berkorban untuk mereka?
Dan akhirnya pun kami terlibat dialog seru dengan Dia, Dia menjawab seperti ini:
- Sampai kapan Aku harus sabar kepada kamu? Sampai saat ini Aku masih melihat kamu berulang kali jatuh dan jatuh, dan Aku tetap sabar mengangkat kamu.
- Adakah Aku harus menentukan batas untuk kesabaran itu pada kamu? Memang, Aku menentukannya, sampai jiwamu beranjak dari ragamu. Setelah itu, tiada kesempatan lagi.
- Seberapa besar Aku harus berkorban untuk kamu? Aku sudah korbankan nyawaKu untumu, sahabatKu. Apa balasanmu untuk Aku?
Ampuni kami Tuhan, saat gunung kesabaran kami mulai diselimuti kabut kebencian, ingatkan kami untuk selalu punya kesabaran yang seperti sabarMu.
Weblogs | Comment (0)