Prosesi Makan Siang

September 28th, 2006

Buka tas, ambil bungkusan makan siang
buka bungkusan makan siang, ceraikan dengan tisue, karet-karet dan sendok garpu
buka wadah makan siang
tatap makanannya, bersyukur dalam doa
nyam nyam nyam.

Begitulah rutinitas sebagian besar hari-hari makan siang di kantor. Membawa bekal makanan dari rumah yang disediakan oleh ibu tercinta. Bersyukur sekali aku punya ibu seperti ibuku. Yang bahkan dalam usiaku sudah kepala 3 ini masih terus memperhatikan aku dengan limpahan cintanya.

Kadang, terpikir untuk menolak menu makan siang yang dibawakan, karena mungkin makanannya kurang enak atau memang karena aku ada janji makan siang di luar. Dan setiap itu pula di benak terlintas, ibu yang bangun jam 4 pagi untuk memasak demi kami, hari demi hari. Pengorbanan kesetiaan yang luar biasa.

Terima kasih ibu.

StickWithU

September 27th, 2006

betapa tergodanya untuk berkata

betapa aku melekat padamu
betapa senyummu energi malamku
betapa diammu kacaukan pikirku

huaaaaaahhh

September 20th, 2006

lemes deh
lenyap seketika hasil jerih payah seharian menulis script menu untuk wap site yang begitu menjemukan. menjemukan karena kurang menantang, atau bahkan tidak menantang sama sekali.

aku perlu hiu, ikan pari, apalah yang mampu membuatku berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi.

yah, cakaran kucing memang melatih untuk siap menerima senyuman harimau lapar. tetapi angin sepoy yang membuat kera jatuh dari pohon, bukan badai. lagi-lagi, isi kepala ini liar, melompat dan melompat…. entah apa kamu mengerti tulisan ini. memang aku tidak berharap kamu mengerti, cukup agar kamu sadar bahwa di muka bumi ini ada sosok seperti ini.

sosok yang seperti menjejak bumi, padahal melayang. seperti melayang di atas air, padahal tenggelam. seperti tenggelam di samudra, padahal bermimpi. seperti bermimpi indah, padahal terjatuh luka. seperti terjatuh, padahal menjejak.

hmmmm…

aku akan melompat lagi

kali ini tentang kamu, dan kamu, dan kamu. iya, kalian. kalian yang datang dan kalian yang pergi, kalian berbayang, atau bahkan hampa. jadi? palsu? maya? pasti ada satu yang asli… seperti tendangan tanpa bayangan. kalau dapat kuperlambat, pasti terlihat jelas. bayangan, kepalsuan, dan yang nyata. atau seperti bukaan rana kamera dalam 1/10000 detik yang dapat menangkap kepak sayap kolibri hingga terdiam mematung.

sudahlah, sudah waktunya pulang. semoga besok Tuhan beri semangat baru untuk mengulang script menjemukan itu. amin

Kebetulan Berulang?

September 19th, 2006

Pernahkah kamu memperhatikan sesuatu hal yang sering terjadi dalam hidupmu namun jarang terjadi pada orang lain? Kebetulankah? Bagaimana kalau hal itu terlalu sering terjadi untuk didefinisikan sebagai suatu kebetulan? Kebetulan yang berulang?

Pernahkah kamu memperhatikan, pada malam hari, saat kamu berjalan disinari penerangan lampu jalan raya, dan kamu lihat lampu itu berkedip, atau padam, atau menyala setelah sebelumnya padam, sesaat kamu melintasinya?

Ya. Aku mengalaminya, dan cukup sering. Terlalu sering untuk dikatakan sebagai suatu kebetulan. Bahkan ada satu peristiwa yang cukup membuat tanda tanya besar di kepala. Saat aku melintas di suatu ruas jalan, dan lampu penerangan sepanjang jalan itu padam sesaat sebelum aku melintas di bawahnya.

Gerangan apakah yang terjadi?

Sahabat

September 18th, 2006

Ditulis untuk mengenang kalian yang akan selalu ada di hati ini. Yang tidak selalu berada saat tawaku, namun entah kalian bisa seketika hadir dalam dukaku.

Terima kasih buat Elistya, Jammie, Riri, dan Cathy yang nekat memaksaku untuk harus meninggalkan pulau Jawa :P Terlebih dari itu, terima kasih untuk telah menjadi teman dalam kedukaan.

Terima kasih buat Astrid WEN yang sedia menemani malam dinginku dengan obrolan-obrolan yang membuatku terjaga. Obrolan tengah malam sampai sarapan bubur ayam yang akan selalu melekat. Terima kasih untuk selalu bisa menjadi adikku.

Terima kasih buat Meliana. Tuhan menempatkanmu di sisiku pada waktu yang tepat. Terima kasih mau menerima semua kekonyolanku, kebodohanku, keluh kesahku, di masa-masa sulit itu.

Terakhir dan selalu menjadi yang terawal, terima kasih buat sang KASIH. Yang mengawal sisian hidupku, menyorot ujung lorong dengan cahaya, dan membisikkan cinta dalam lelapku.

Retreat

September 18th, 2006

Tahun ini dua kali aku mengadakan perjalanan ke dua kota berbeda yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Kenapa? Yah karena memang aku rasa perlu untuk sejenak ‘lari’ dari rutinitas keseharian yang bikin penat, tidak hanya tubuh, tapi juga jiwa.

Sebelumnya aku memang sering berkelit dalam hal lancong-melancong. Kalau ada waktu luang berhari-hari pun aku lebih senang berada di rumah.

Ide untuk bepergian ke luar kota sebenarnya bukanlah ide asli yang mencuat dari kepalaku. Adalah teman dan sahabatku yang dengan semangat menghujamkan ide mereka agar aku sejenak mengambil liburan ke daerah yang jauh dari jakarta dan suasananya. Mereka saat itu mungkin (pasti) prihatin akan kondisi kejiwaanku yang terpukul berat karena peristiwa ‘desember kelabu’ tahun 2006 yang lalu.

Ternyata, benarlah bahwa tidak hanya tubuh yang perlu untuk beristirahat. Untuk sekedar mendengar senyap sunyinya malam yang gulita, atau menatap cakrawala tanpa hamparan beton, membawa kesegaran tersendiri di batin ini.